Sebabkan 3 Harimau Sumatra Mati di Aceh Timur, Aktivis Lingkungan Minta Pelaku Dihukum Berat
Kondisi bangkai harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang ditemukan mati terkena jerat/DOK ANTARA

Bagikan:

ACEH - Beberapa waktu lalu aktivis lingkungan dari Lembaga Suar Galang Keadilan (LSGK) meminta agar pelaku yang menyebabkan tiga ekor harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) di Aceh Timur mati mendapat hukuman berat.
 
Program Manajer LSGK, Missi Muizzan, menyatakan, pihaknya mengapresiasi kinerja aparat penegak hukum di kabupaten setempat terkait penanganan kasus kematian tiga ekor satwa dilindungi itu.
 
“LSGK berharap para pelaku dapat diadili secara objektif agar memenuhi rasa keadilan bagi semua pihak atas kematian tiga ekor harimau sumatera karena jerat ini,” terang Missi di Banda Aceh, Rabu, 27 Juli, dikutip VOI dari Antara.

3 Harimau Sumatra di Aceh Timur Terkena Jerat Babi

Missi menjelaskan, pada April 2022 tiga ekor harimau sumatra ditemukan mati akibat terkena jerat babi di hutan kawasan perkebunan sawit HGU PT Aloer Timur, Desa Sri Mulya, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur. Ketiga satwa yang hampir punah itu ditemukan di dua lokasi berdekatan dalam keadaan telah menjadi bangkai.
 
Beberapa hari usai penemuan, Polres Aceh Timur menangkap dua warga yang diduga sebagai pelaku. Saat melakukan penangkapan, polisi juga mengamankan barang bukti.
 
“Polisi mengamankan barang bukti berupa peralatan jerat yang digunakan pelaku untuk melakukan kegiatannya, dan di pondok terduga turut diamankan beberapa lembar bulu burung kuau raja,” katanya.
 
LSGK mengatakan penangkapan terduga pelaku tersebut sudah memenuhi unsur tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal 1 angka 20 KUHAP.

Penanganan Kasus Kematian Harimau

Polres Aceh Timur juga telah melimpahkan perkara tindak pidana tersebut ke Kejaksaan Negeri Aceh Timur, dan kejaksaan juga telah melimpahkan perkara itu ke Pengadilan Negeri untuk disidangkan.
 
“Mudah-mudahan ini merupakan kasus terakhir yang terjadi di wilayah hukum Aceh Timur mengingat populasi harimau sumatera semakin menurun dan terancam punah,” katanya.
 
LSGK optimistis atas komitmen para aparat penegak hukum, untuk menegakkan keadilan terhadap kedua tersangka atas dugaan tindak pidana yang menyebabkan kematian tiga ekor individu harimau sumatra itu.
 
Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menyebut tiga ekor harimau sumatra ditemukan mati terjerat di wilayah perkebunan HGU PT Aloer Timur di Desa Sri Mulya, Kecamatan Peunaron, Aceh Timur.
 
Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto, mengatakan BKSDA Aceh langsung memberangkatkan medis ke lokasi temuan satwa dilindungi itu mati. Tim medis segera melakukan nekropsi atau bedah bangkai ketiga harimau tersebut.
 
"BKSDA Aceh mengutuk keras kejadian ini. Kami bekerja sama dengan pihak penegak hukum akan mengusut tuntas kematian tiga harimau tersebut apabila proses nekropsi ditemukan unsur kesengajaan," kata Agus Arianto.