Mengenal Duck Syndrome, Perilaku yang Selalu Ingin Tampak Sempurna dan Bahagia padahal Sebaliknya
Ilustrasi (Xijian/Istockphoto)

Bagikan:

ACEH - Semua manusia punya masalah masing-masing, yang belum tentu orang lain mengetahuinya. Cara yang digunakan oleh masing-masing orang untuk mengatasi atau menghadapi masalah tersebut juga berbeda-beda. Namun, ada pula orang yang tampak baik-baik saja, tenang, dan seperti tanpa beban, tetapi sebenarnya tertekan. Hal ini biasanya disebut duck syndrome

Duck syndrome bisa terjadi saat seseorang mencoba menghadirkan ilusi kehidupan yang sempurna, tetapi sebenarnya bekerja keras untuk menjaga semuanya tampak aman terkendali. Istilah ini berasal dari penggambaran bebek yang tampak berenang dengan sangat tenang, tetapi sebenarnya kakinya terus mengayuh di bawah permukaan air. 

Ciri Duck Syndrome

Penderita duck syndrome takut jika orang lain tahu bahwa kehidupannya tidak sesempurna yang dia tunjukkan. Ada banyak faktor yang memengaruhi terjadi duck syndrome, misalnya faktor lingkungan, pola asuh, pola hidup, dan pengaruh media sosial. 

Meski tidak termasuk dalam golongan gangguan mental, duck syndrome jika diabaikan dapat persoalan yang serius. Setidaknya, ada lima gejala seseorang mengalami duck syndrome. Disadur dari PsychCentral, berikut adalah kelima ciri tersebut.

  • Sering membandingkan diri dengan orang lain
  • Merasa seperti orang lain lebih baik
  • Merasa seolah-olah Anda gagal memenuhi tuntutan hidup
  • Takut akan pengawasan atau kritikan
  • merasa seperti orang lain memanipulasi situasi untuk menguji kinerja Anda

Cara Mengelola Duck Syndrom

Mengelola duck syndrome sedikit menantang karena masih belum banyak orang familiar dengan kondisi ini. Tetapi ada beberapa langkah mudah untuk Anda mengatasinya. Depresi dan kecemasan dapat terjadi sebagai akibat dari duck syndrome. Karena itu, mengelola duck syndrome mungkin paling baik ditangani dengan metode serupa dalam mengobati depresi dan gangguan kecemasan.

Dikutip VOI dari Alodokter, ada tujuh cara yang bisa dilakukan untuk meredam duck syndrome.

  1. Lakukan konseling dengan pembimbing akademik atau konselor di sekolah atau kampus.
  2. Kenali kapasitas diri agar dapat bekerja sesuai dengan kemampuan.
  3. Belajar untuk mencintai diri sendiri.
  4. Jalani gaya hidup sehat, yakni dengan mengonsumsi makanan sehat, rutin berolahraga, serta menghindari rokok dan minuman beralkohol.
  5. Luangkan waktu untuk melakukan me time atau relaksasi guna mengurangi stres.
  6. Ubah pola pikir menjadi lebih positif dan berhenti membandingkan diri dengan orang lain.
  7. Jauhi media sosial untuk beberapa waktu.