Pengertian Broken Heart Syndrom, Gangguan Jantung yang Berasal dari Stres
Ilustrasi mengenal broken heart syndrome (iStockphoto)

Bagikan:

ACEH – Broken heart memiliki arti secara harafiah patah hati. Secara medis, hal ini ternyata bisa memicu penyakit pada jantung. Stres atau mengalami tekanan, baik pada pikiran maupun fisik, bisa menurunkan kesehatan tubuh.

Dikutip VOI dari Cleveland Clinic, broken heart syndrome bergejala mirip dengan serangan jantung. Hal ini memang berbeda, tetapi gejalanya sama, seperti sesak napas dan nyeri dada. Namun pada broken heart syndrome, tidak terjadi penyumbatan arteri koroner ataupun kerusakan jantung permanen.

Broken heart syndrome disebut juga stres kardiomiopati atau takotsubo cardiomyopathy. Takotsubo merupakan sebutan di Jepang untuk perangkap gurita dengan bagian bawah berukuran lebar dan leher yang sempit. Bentuknya menyerupai ventrikel kiri jantung yang tertekan seperti pada broken heart syndrome.

Penyebab Broken Heart Syndrom

Pemicu dari sindrom yang menyebabkan rasa sakit seperti serangan jantung ini adalah stres emosional dan fisik. Beberapa hal yang bisa menjadi pemicu antara lain kesedihan karena kematian orang yang dicintai, perasaan kehilangan, kabar buruk, ketakutan yang intens, kemarahan yang ekstrem, bahkan menerima kabar baik pun bisa jadi pemicu.

Selain itu, masalah kesehatan tertentu juga bisa meningkatkan risiko broken heart syndrome, antara lain peristiwa fisik yang melelahkan, serangan asma, dypnea, kejang, stroke, demam tinggi, hipoglikemia, kehilangan banyak darah, dan operasi.

Dalam berbagai kasus, broken heart syndrome tidak memicu sesuatu yang semakin parah. Artinya hanya 1 persen dari seluruh orang yang pernah mengalami broken heart syndrome meninggal dunia. Rata-rata, kondisi jantung tidak normal karena stres emosional dan fisik dialami wanita. Sejumlah 88 persen penderita broken heart syndrome adalah wanita setelah menopause dalam rentang usia 58-77 tahun.

Apa penyebab broken heart syndrome pada jantung? Gejala yang dijelaskan di atas, ternyata tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Para ahli berpendapat bahwa hormon-hormon stres, seperti adrenalin, noradrenalin, epinefrin, dan norepinefrin bisa mengganggu fungsi jantung dan paling masuk akal menjadi pemicu.

Menurut ahli, broken heart syndrome bisa mengganggu ritme jantung yang tadinya normal menjadi tidak stabil. Selain itu, sindrom ini juga menyebabkan bagian dari jantung membesar sementara waktu dan menyebabkan kontraksi yang lebih kuat di jantung area yang lain. Perubahan ini memicu kegagalan otot jantung dalam memompa darah.

Tanda-Tanda Broken Heart Syndrome

Tanda-tanda broken heart syndrome, meliputi nyeri dada yang parah, sesak napas, ventrikel kiri jantung melemah, cairan menumpuk di paru-paru, dan tekanan darah rendah. Broken heart syndrome juga memicu komplikasi meskipun jarang terjadi. Oleh karena serangan ini tidak terduga dan bersifat sementara, maka sangat disarankan untuk melakukan cek kesehatan secara rutin.

Nah, sebagai langkah pencegahan, ahli menyarankan untuk mempelajari dan menjalani manajemen stres serta teknik pemecahan masalah yang membantu menurunkan tingkat stres fisik dan emosional.

Misalnya dengan teknik-teknik relaksasi seperti yoga, meditasi, menulis jurnal, dan membiasakan mindfulness. Disamping itu, perlu menjalani pola hidup sehat untuk menyokong kesehatan secara keseluruhan.

Artikel ini telah tayang dengan judul Mengenal Broken Heart Syndrome, Penyakit Jantung yang Dipicu Stres Fisik dan Emosional.

Selain broken heart syndrome, ikuti berita dalam dan luar negeri lainnya hanya di VOI Aceh.