Peluru yang Tewaskan Jurnalis Al Jazeera Akan Diuji oleh Israel
Juru Bicara Militer Israel, Brigjen Ran Kochav. (Wikimedia Commons/IDF Spokesperson's Unit/Amit Agonov)

Bagikan:

ACEH - Pada Minggu, Israel mengaku akan lakuikan pengujian terhadap peluru yang menewaskan Shireen Abu Akleh, jurnalis Al Jazeera berdarah Palestina-Amerika. Hal tersebut dilakukan guna menentukan apakah salah satu tentara Israel menembak Shireen. Disebutkan bahwa seorang pengamat Amerika Serikat akan hadir.

Sebelumnya, pihak Palestina menyerahkan peluru yang jadi barang bukti itu kepada koordinator keamanan Amerika Serikat pada Sabtu. 

Kematian Jurnalis Al Jazeera

Reporter Al Jazeera, Shireen Abu Akleh, tewas pada pada 11 Mei, yaitu ketika terjadi serangan Israel di Tepi Barat yang diduduki. Kasus tersebut telah membayangi kunjungan Presiden AS, Joe Biden, yang dijadwalkan bulan ini.

Pihak Palestina menyebut, militer Israel sengaja membunuh Abu Akleh. Israel menyangkal hal tersebut dengan mengatakan dia mungkin terkena tembakan tentara yang salah atau peluru dari salah satu pria bersenjata Palestina, yang bentrok dengan pasukannya di tempat kejadian.

"Tes (balistik) itu tidak akan dilakukan oleh Amerika. Tes tersebut akan menjadi tes Israel, dengan kehadiran perwakilan Amerika," terang juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Ran Kochav, dikutip VOI dari Reuters, 4 Juli.

"Dalam beberapa hari atau jam mendatang akan menjadi jelas apakah bahkan kami yang membunuhnya, secara tidak sengaja, atau apakah itu orang-orang bersenjata Palestina," ujarnya kepada Radio Angkatan Darat.

"Jika kami membunuhnya, kami akan bertanggung jawab dan menyesali apa yang terjadim," tegasnya.

Lokasi Pengujian Balistik

Di tempat lain, Akram al-Khatib, jaksa umum untuk otoritas Palestina, menjelaskan bahwa tes akan dilakukan di Kedutaan Besar AS yang ada di Yerusalem.

"Kami mendapat jaminan dari koordinator Amerika, bahwa pemeriksaan akan dilakukan oleh mereka dan pihak Israel tidak akan ambil bagian," ujar Al-Khatib kepada radio Voice of Palestine, seraya menambahkan dia mengharapkan peluru itu akan dikembalikan pada Hari Minggu.

Adapun seorang juru bicara kedutaan AS mengatakan: "Kami tidak memiliki sesuatu yang baru saat ini."

"Ini akan memakan waktu beberapa hari untuk melakukan uji balistik, dengan beberapa ahli, untuk memastikan bahwa ada penilaian yang tegas," ungkap Wakil Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel Yoav Segalovitz kepada Radio Angkatan Darat.

Israel mengatakan orang yang menembakkan peluru hanya dapat ditentukan dengan mencocokkannya dengan pistol di laboratorium forensik. Pengujian semacam itu biasanya membutuhkan penemuan tanda pada peluru yang ditinggalkan oleh laras senapan yang unik dari senjata yang ditembakkannya.

Militer Israel sebelumnya mengatakan, seorang tentara bisa saja berada dalam posisi untuk menembakkan tembakan fatal, menunjukkan bahwa itu mungkin hanya mempertimbangkan senapan tentara itu.

Diketahui, Presiden Biden diperkirakan akan mengadakan pertemuan terpisah dengan para pemimpin Palestina dan Israel dalam perjalanannya 13-16 Juli ke Timur Tengah. Kasus Abu Akleh akan menjadi ujian diplomatik dan domestik bagi Perdana Menteri baru Israel Yair Lapid.

Artikel ini telah tayang dengan judul Peluru yang Tewaskan Wartawan Al Jazeera Shireen Abu Akleh Bakal Diuji, Israel: Jika Kami Membunuhnya, Kami akan Bertanggung Jawab.

Selain peluru yang tewaskan jurnalis Al Jazeera, ikuti berita Aceh terkini. Klik link tersebut untuk berita paling update wilayah Aceh.