Inilah Beberapa Tindakan Istri yang Perlu Dilakukan jika Mengalami KDRT
Ilustrasi sikap istri jika dipukul suami, apa yang harus dilakukan (Pexels/Mart Production)

Bagikan:

Aceh - Hubungan pernikahan tak luput dari masalah, perbedaan pendapat, dan pertengkaran. Hal tersebut terbilang hal yang lumrah. Yang harus dihindari adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Jangan sampai perbedaan pendapat antara istri dan suami berujung kekerasan. Umumnya, pihak istrilah yang menjadi korban KDRT. Lalu, apa tindakan istri jika mengalami KDRT?

Dikutip VOI dari Mayo Clinic, hal yang harus dilakukan jika mengalami hal tersebut adalah mengenali polanya dan segera mencari bantuan. Sebab, tindakan KDRT merupakan ancaman serius bagi banyak perempuan.

Tindakan Istri jika Mengalami KDRT

Identifikasi 

Hubungan yang kasar melibatkan kekuasaan dan kontrol, misalnya orang yang merasa dominan akan menggunakan kata-kata dan perilaku intimidasi untuk mengendalikan pasangannya. KDRT bisa terjadi dalam berbagai bentuk, seperti pelecehan emosional, seksual, fisik, dan ancaman. Memukul, menendang, mendorong, menampar, mencekik, atau menyakiti Anda dan anak-anak termasuk KDRT.

Mengenali polanya adalah hal yang perlu dilakukan. Setiap perilaku buruk, misalnya memukul, bisa disebabkan satu hal, bisa juga karena karakter orang pemarah. Jadi, penyebab dan karakter perlu dikenali sebagai langkah awal melindungi diri.

Minta perlindungan orang terdekat

Pada banyak kasus, perempuan takut, tetapi percaya bahwa suami akan berubah suatu saat. Perempuan merasa takut sehingga tidak berani menceritakan pada siapa pun mengenai apa yang dialaminya, terutama dalam kasus KDRT. KDRT bisa memengaruhi kondisi psikologis dan membuat seseorang hidup dalam ketakutan. Namun, upayakan untuk menceritakannya pada orang terdekat. Dengan bercerita, orang-orang terdekat akan memberikan dukungan penuh.

Putus siklusnya

Jika berada dalam situasi minor atau yang mengalami kekerasan, korban mungkin mengalami pola yang mengancam, diserang, pelaku meminta maaf dan berjanji untuk berubah atau menawarkan hadiah, dan siklusnya berulang. Memutus siklus harus dilakukan, karena semakin lama bertahan dalam hubungan yang kasar, semakin besar pengorbanan fisik dan emosionalnya.

Minta bantuan profesional

Jika kekerasan berlarut-larut dan tak memungkinkan untuk memutus siklusnya, mintalah pertolongan profesional. Pertolongan profesional seperti psikolog, psikiater, terapis pernikahan, hingga lapor pada yang berwajib untuk dimediasi mencari jalan hukum.