Mengenal Self-Reward secara Tepat untuk Menghindari Konsumerisme
Ilustrasi self-reward atau boros (Unplash/Toa Heftiba)

Bagikan:

ACEH – Cukup banyak orang salah mengartikan self-reward sehingga terjebak pola hidup konsumerisme dan jadi boros. Pemahaman self-reward secara tepat diperkukan agar apa yang dihasilkan tak habis untuk apa yang mereka sebut “penghargaan” itu.

Perlu diketahui bahwa cara menghargai diri sendiri tidak soal hadiah, misalnya belanja banyak barang yang tidak penting, beli camilan favorit, atau spa yang menguras dompet. Dalam buku Better Than Before tulisan Gretchen Rubin, dikutip VOI dari Psychcentral, ada banyak strategi yang bisa dilakukan untuk mengubah kebiasaan unik tersebut.

Rubin menyampaikan, terdapat studi yang menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan sedikit penghargaan, justru memiliki pengendalian diri. Ini merupakan rahasia kedewasaan, bahwa jika seseorang memberi lebih banyak akan meminta lebih banyak pula, bukan?

Perspektif Self-Reward dengan Pemberian Hadiah

Kebiasaan memberikan “hadiah” pada diri sendiri membangun dua perspektif. Pertama, ada anggapan jika tidak pernah memberi hadiah pada diri sendiri maka dianggap sebagai ketabahan atau tidak pernah memanjakan dirinya sendiri. Tetapi jika tidak pernah merasa kekurangan dan tetap memiliki motivasi untuk bekerja keras dengan bersikap begitu, hidupnya tetap bisa seimbang, kata Rubin.

Perspektif kedua, memberikan self-reward dengan hadiah tetapi tidak menganggapnya sebagai hadiah. Ini yang berisiko, terang Rubin. Memberikan penghargaan pada diri sendiri perlu berpijak pada pemahaman utuh mengenai pengalaman yang dilalui dan tujuan yang telah dicapai.

Terkadang self-reward tidak dimaknai sebagai sebuah penghargaan, tetapi aktivitas yang buta arah atau terjebak pada konsumerisme. Rubin menyarankan, kita harus berusaha memiliki suatu hadiah yang sehat sehingga bisa mengisi ulang energi dengan cara yang sehat pula.

Contoh Self-Reward

Teori pengkondisian operan dalam psikologi, dilansir JMC Academy Australia, menunjukkan bahwa kita belajar melalui hadiah dan hukuman. Ketika perilaku diikuti hasil yang menyenangkan, seseorang cenderung mengulangi perilaku tersebut.

Ini disebut positive reinforcement atau penguatan positif. Nah, dengan memberikan penghargaan pada diri sendiri atas capaian yang telah diperoleh, maka belajar untuk capaian yang lain dianggap bisa lebih efektif.

Seperti apa self-reward yang berhasil? Salah satu contoh yang bisa dilakukan adalah menikmati hari libur akhir pekan, melakukan perjalanan singkat yang menyenangkan, atau di rumah menikmati hangatnya keluarga. Self-reward ini merupakan cara menghargai diri sendiri secara eksternal.

Sementara, self-reward secara internal bisa dilakukan dengan memunculkan perasaan bersyukur dan kepuasan karena telah menyelesaikan proyek yang sulit. Uniknya, menurut studi, yang lebih efektif membuat kita belajar meraih capaian dengan lebih baik ialah dengan melakukan self-reward internal. Artinya, enggak perlu menghabiskan isi dompet terlalu banyak untuk “menghargai” diri sendiri ya.  

Artikel ini telah tayang dengan judul Jadi Boros Karena Keliru Memahami Self-Reward? Ini! Kenali Caranya yang Tepat.

Selain self-reward tepat, ikuti berita serta info menarik dari dalam dan luar negeri lainnya hanya di VOI Aceh.