Sekolah Menengah untuk Perempuan Afghanistan Ditutup, Retno Marsudi Harap Taliban Meninjau Ulang
Ilustrasi pelajar wanita Afghanistan. (Wikimedia Commons/USAID)

Bagikan:

ACEH - Taliban kembali melakukan penutupan sekolah menengah untuk perempuan Afghanistan. Terkait hal tersebut, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, merasa prihatin dan berharap Taliban melakukan peninjauan ulang terhadap keputusannya.

Pada Rabu lalu, Taliban kembali menarik pengumuman mereka bahwa sekolah menengah akan dibuka untuk anak perempuan. Mereka menggantinya dengan pernyataan bahwa akan tetap tutup hingga sebuah ketentuan disusun sesuai hukum Islam bagi mereka untuk dibuka kembali.

Harapan Retno Marsudi Terkait Penutupan Sekolah Menengah untuk Perempuan di Afghanistan

Guru dan siswa dari tiga sekolah menengah di sekitar Kabul mengatakan bahwa para perempuan telah kembali ke kampus dengan gembira pada Rabu pagi, tetapi diperintahkan untuk pulang lagi. Mereka mengatakan, siswa yang pergi sambil menangis.

"Kami semua menjadi benar-benar putus asa ketika kepala sekolah memberi tahu kami, dia juga menangis," terang seorang siswa yang tidak disebutkan namanya dengan alasan keamanan, dikutip VOI dari Reuters, 24 Maret.

Keputusan tersebut mengejutkan banyak pihak dan mengundang kecaman serta keprihatinan dari lembaga-lembaga kemanusiaan, kelompok hak asasi, dan diplomat. Padahal, pemerintahan Taliban sedang mencari pengakuan internasional.

"Saya sangat prihatin dengan keputusan Taliban untuk menutup akses sekolah menengah untuk anak perempuan di Afghanistan. Pendidikan untuk semua, termasuk perempuan dan anak perempuan, sangat penting untuk masa depan Afghanistan," tulis Retno melalui akun Twitter-nya.

"Indonesia akan terus mendorong pemberdayaan perempuan, khususnya akses pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan di Afghanistan. Indonesia berharap Taliban dapat meninjau kembali keputusan ini," lanjut Retno.

Penarikan Pengumuman Pembukaan Sekolah

Komunitas internasional telah menjadikan pendidikan anak perempuan sebagai tuntutan utama untuk pengakuan masa depan pemerintahan Taliban. Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengatakan, keputusan Taliban adalah kekecewaan yang mendalam dan sangat merusak bagi Afghanistan.

"Penolakan pendidikan tidak hanya melanggar persamaan hak perempuan dan anak perempuan untuk pendidikan," kritik Guterres dalam sebuah pernyataan.

"Saya mendesak otoritas de facto Taliban untuk membuka sekolah bagi semua siswa tanpa penundaan lebih lanjut," tegasnya.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Afghanistan sudah membuat pengumuman pada pekan lalu, yaitu sekolah untuk semua siswa, termasuk anak perempuan, akan dibuka di seluruh negeri pada Rabu. Hal itu dilakukan setelah berbulan-bulan pembatasan pendidikan untuk anak perempuan usia sekolah menengah.

Pada Selasa malam, juru bicara Kementerian Pendidikan merilis video ucapan selamat kepada semua siswa atas kembalinya mereka ke kelas.

Namun, pada Rabu, pemberitahuan Kementerian Pendidikan meyatakan bahwa sekolah untuk anak perempuan akan ditutup sampai ketentuan disusun sesuai hukum Islam dan budaya Afghanistan, menurut Bakhtar News, kantor berita pemerintah.

Terpisah, Suhail Shaheen, anggota senior Taliban yang berbasis di Doha, mengatakan penundaan pembukaan sekolah perempuan karena masalah teknis, dengan Kementerian Pendidikan sedang mengerjakan seragam standar untuk siswa di seluruh negeri.

"Kami berharap masalah seragam ini bisa diselesaikan dan diselesaikan secepatnya," singkatnya.

Artikel ini telah tayang dengan judul Prihatin Penutupan Kembali Sekolah Menengah untuk Wanita, Menlu Retno Harapkan Taliban Tinjau Keputusannya.

Selain sekolah menengah untuk perempuan di Afghanistan, ikuti berita Aceh terkini. Klik link tersebut untuk berita paling update wilayah Aceh.